Budpar

Kawasan Mangrove, jadi potensi Desa Bumbu

Kepala Desa Bumbu, Razak Bil Ma'Aruf

SULAWESION.COM, MUNA – Keunikan pedesaan menjadi ciri tersendiri yang membedakan dengan Desa-desa lainnya, yang menjadi daya tarik untuk di kunjungi termasuk obyek Wisata. Desa Bumbu memiliki potensi Obyek Wisata kawasan Mangrove dengan berbagai Fauna di dalamnya.

Keberadaan Hutan Mangrove ini belum banyak yang mengetahui terlebih terletak di pojok Kecamatan Pasir Putih. Namun siapa sangka, dibalik sunyi sepi kampung ini menyimpan sumber daya yang ada pada kawasan manggrove tersebut, yang ternyata selama ini sudah menjadi tempat pencaharian sehari-hari bagi warga setempat.

Kebiasaan yang dilakukan beberapa warga disana adalah menangkap macam-macam isi hutan manggrove untuk kebutuhan makan sehari-hari, lebihnya untuk dijual. Ada yang menangkap kepiting, biasanya menggunakan bubu, sekali pasang pasti dapat. Padahal menangkap kepiting setiap hari dilakukan, sampai sejauh ini belum mengancam habitatnya apalagi punah.

“Mungkin sangat banyak tidak sebanding jumlah kepiting dengan jumlah nelayan yang menangkap,jadi ada terus,”Jelas Kades Bumbu Razak Bil Ma’Aruf Saat ditemui Jumat (24/11/2017).

Hutan manggrove yang memiliki panjang 4 kilo meter,dan luas 2 kilo meter tersebut,selain kepitingnya banyak,harga jual perkilonya sangat menggiurkan para pemasang bubu.

Pasarannya lancar,nelayan kerap mengirim kepiting ke Kota Bau-Bau lewat kenalan supir mobil angkutan rute Baubau Labuan untuk ditimbangkan.

Kadang kalau jumlahnya banyak mereka bawa sendiri ke Kota Baubau,dengan harapan untuk mendapat perbandingan harga,karena berbeda dikirim melalui perantara ketimbang di bawa langsung ke agen penampungnya.

“Kalau tidak salah namanya kepiting loreng,biasa disebut kepiting bakau,harganya itu 120 ribu/kilo kalau yang golongan A dengan spesifikasi 1 kilo 5 ons beratnya.Itu kategori super,informasinya lebih mahal kepiting disini daripada kepiting di Kendari,”Ceritanya.

Selain kepiting,hari-harinya nelayan juga berburu udang.Hasilnya selain dijual didalam kampung itu sendiri,ada pembeli langsung ambil ditempat untuk dijual ke pasar-pasar Desa Tetangga Seperti Desa Lambelu Kecamatan Pasikolaga.

“Kalau udang dijual dalam kampung.Bahkan ada juga yang tadah langsung di laut untuk dijual di pasar lambelu dan desa-desa lain,”Lanjut Razak.

Selain 2 jenis itu,masih banyak sumber daya ikan lainnya,seperti ikan gabus,korapu air tawar,boronang,sangat banyak disana kata Kepala Desa.Belum lagi kerang-kerangan,tanpa repot dicari tinggal di petik saking banyaknya.

“Banyak sekali,intinya setiap turun pasti dapat,”Razak bilang.

Utuhnya alam manggrove hingga aktifitas biologi di dalamnya cukup memberikan dampak positif bagi ekonomi warga Desa Bumbu selama ini.

Olehnya itu Kepala Desa akan memberikan perhatian lebih agar hutan manggrove di desanya tetap lestari.Apalagi kata dia,manggrove Desa Bumbu pernah ditinjau kementrian kelautan,karena dianggap Desa ini sebagai barometer dalam menentukan titik untuk pengembangan udang dan kepiting.

Bahkan menurut Pihak kementrian, kala itu di dampingi camat Tasrim Darjo,untuk masuk kehutan inipun mudah karena letaknya dipinggir jalan raya Provinsi,baginya sangat gampang untuk menelusurinya.

“Saya sebagai Kepala Desa bersama masyarakat harus menjaga hutan ini jangan sampai dirusak,sempat ada orang Lambelu yang datang ambil kayu bakar,saya larang dan langsung surati Kepala Desanya agar dia larang warganya potong bakau,”Tutupnya. (ARD)

 

 

 

Sebarkan:
Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top