Akibat Perang, Keberlangsungan Ekspor Rawan

Suasana pelabuhan Petikemas Bitung. (Dokumentasi | Yaser Baginda)

JAKARTA, SULAWESION.COM – Sektor energi, logistik internasional, serta rantai pasok bahan baku industri memunculkan kekuatiran di tengah eskalasi konflik geopolitik antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

Ketua Gabungan Perusahaan Ekspor Nasional (GPEI) DKI Jakarta, Irwandy MA Rajabasa, mengemukakan selain energi, konflik geopolitik juga berpotensi memengaruhi ketersediaan bahan baku industri yang berasal dari pasar global.

Bacaan Lainnya

Bahkan jika terus berlanjut, imbuhnya, konflik di kawasan Timur Tengah itu dapat mengganggu perdagangan internasional, memicu kenaikan harga komoditas, dan berdampak pada kinerja ekspor berbagai negara.

“Oleh karenanya, bagaimana upaya Pemerintah melakukan mitigasi agar meminimalisir dampak ekonominya di dalam negeri jika konflik atau perang tersebut berkepanjangan. Yang penting di dalam negeri kita juga harus solid. Kelancaran distribusi logistik dan barang domestik juga harus tetap diperhatikan. Dan Pemerintah mesti memiliki langkah tanggap darurat mengenai semua itu,” ujar Irwandy, pada Selasa (10/3/2026).

Dia memaparkan, kondisi perang merupakan kejadian luar biasa dan tidak bisa diprediksi kapan berakhir, sehingga saat ini muncul berbagai kekhawatiran, termasuk dari para eksportir nasional.

“Beberapa rekan eksportir ada yang telpon saya dan mulai khawatir lantaran komoditi ekspornya ke beberapa wilayah di Timur Tengah mulai kesulitan alat angkutannya (pelayaran/kapal) imbas perang yang terus alami eskalasi dalam beberapa hari terakhir ini,” jelas Irwandy.

Sedangkan di dalam negeri, imbuhnya, dampak perang tersebut bakal berimbas pada beberapa sektor industri yang memiliki ketergantungan terhadap bahan baku impor, seperti industri kimia, petrokimia, tekstil, logam, hingga industri makanan dan minuman.

“Hal ini lantaran industri atau pabrik juga tidak miliki stok bahan baku cukup dalam jangka panjang,” papar Irwandy.

Dia menambahkan, gangguan pada jalur perdagangan internasional juga dapat memengaruhi kinerja ekspor industri manufaktur.

Pasalnya, dalam kondisi ketidakpastian geopolitik global seperti juga berpotensi meningkatkan biaya pengadaan bahan baku dan memperpanjang waktu pengiriman akibat perubahan jalur logistik global.

“Jika terjadi konflik geopolitik biasanya memicu volatilitas pasar global, sehingga permintaan dari negara tujuan ekspor dapat mengalami fluktuasi,” ucap Irwandy.

Karenanya, GPEI mendorong Pemerintah melakukan strategi yang tepat dengan cara memperkuat struktur industri hulu, meningkatkan penggunaan bahan baku dalam negeri, serta memperluas diversifikasi pasar ekspor.

“Namun sebagai pelaku bisnis kami juga mengimbau agar masyarakat di dalam negeri jangan panik dengan situasi geopolitik global itu agar kondisi ekonomi domestik tetap bisa terjaga,” papar Irwandy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan