‘Bakan Ramadan Fest 2026’ Tinggalkan Jejak Syiar yang Mengakar

Bupati Bolmong Yusra Alhabsy didampingi manajemen JRBM berbicang dengan warga yang berpartisipasi dalam kegiatan tersebut pada pembukaan kegiatan (ist)

BOLMONG, SULAWESION.COM– Gerimis tipis yang turun di Lapangan Olahraga Desa Bakan, Kecamatan Lolayan, Kabupaten Bolaang Mongondow, Rabu (11/3/2026) malam, tidak menyurutkan langkah warga yang datang menghadiri penutupan Bakan Ramadan Fest 2026. Di bawah cahaya lampu panggung dan tenda-tenda yang masih dipadati pengunjung, rangkaian acara penutup berlangsung hangat, diiringi penampilan live music dari Overjoyed Band.

Festival Ramadan yang digelar melalui kolaborasi PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM), Pemuda Karang Taruna Desa Bakan, pemerintah desa lingkar tambang, dan dukungan berbagai pihak ini bukan sekadar hiburan Ramadan. Selama lebih dari dua pekan pelaksanaannya, kegiatan tersebut menjadi ruang syiar keagamaan, wadah kreativitas generasi muda, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi warga desa.

Bacaan Lainnya

Setiap sore hingga malam, lapangan desa berubah menjadi pusat keramaian. Anak-anak dan remaja tampil dalam berbagai lomba keagamaan, sementara masyarakat berkumpul menikmati suasana Ramadan sambil berburu jajanan berbuka puasa di lapak-lapak UMKM lokal.

Ketua panitia Subagio Mokoagow menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, keberhasilan festival ini merupakan hasil kerja bersama berbagai elemen masyarakat.

“Alhamdulillah kegiatan ini bisa berjalan dengan baik. Antusiasme masyarakat luar biasa sejak awal sampai malam penutupan. Ini menunjukkan bahwa kegiatan positif seperti ini memang dibutuhkan oleh masyarakat,” ujarnya.

Makna kebersamaan juga terasa kuat sepanjang pelaksanaan festival ini. Ketua Karang Taruna Desa Bakan yang juga Wakil Ketua DPRD Bolaang Mongondow, Febrianto Tangahu, mengatakan bahwa di balik suksesnya kegiatan tersebut tentu ada berbagai tantangan yang harus dilalui.

“Ada suka duka dalam pelaksanaan kegiatan ini. Saya hadir di separuh perjalanan kegiatan dan melihat langsung bagaimana antusiasme masyarakat. Ini sukses dan menjadi contoh bagi pemuda-pemudi kita. Tahun depan kegiatan positif seperti ini akan dilaksanakan lagi,” ujarnya sebelum secara resmi menutup kegiatan dengan mengucap syukur.

Pada malam penutupan, panitia juga mengumumkan para pemenang lomba keagamaan yang selama ini menjadi daya tarik utama festival. Untuk lomba adzan, juara pertama diraih Wahyuda Raja Bantu, disusul Fahrezi Dao sebagai juara kedua dan Fahmi Mokodompit di posisi ketiga.

Sementara pada lomba tahfiz Al-Qur’an, juara pertama diraih Muh Azhar Ardani Podomi, diikuti Afif Tangahu sebagai juara kedua dan Aflah Asraf Tonggi di posisi ketiga. Adapun pada lomba ceramah kategori remaja, juara pertama diraih Sindy Cahyani Podomi, juara kedua Wahyuda Raja Bantu, dan juara ketiga Ikmal Mokodompit.

Bagi masyarakat Desa Bakan, festival ini bukan hanya menghadirkan hiburan Ramadan, tetapi juga menjadi ruang pertemuan sosial yang mempererat kebersamaan.

Salah seorang warga, Wahyu Podomi, mengaku kegiatan tersebut membuat suasana Ramadan di desa terasa lebih hidup.  “Setiap sore sampai malam lapangan selalu ramai. Anak-anak punya kegiatan positif, orang tua juga bisa berkumpul. Ramadan terasa lebih semarak,” ujarnya.

Hal serupa disampaikan Darmono, yang berharap kegiatan tersebut dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang. Senada dengan itu, Papa Ayu, warga lainnya, mengaku merasakan manfaat langsung dari keramaian kegiatan tersebut karena usahanya lebih menguntungkan dibanding hari biasa.

Tak hanya dari Bakan, warga pengunjung dari daerah lain pun memberi apresiasi gelaran ini.  “Saya pikir hanya Kotamobagu saja yang meriah saat Ramadan seperti ini.  Di Bolmong, terutama Desa Bakan yang lumayan jauh dari pusat kota, ternyata tak kalah meriah.  Semoga tahun depan bisa lebih dari ini,” ujar Gita Datunsolang, ibu muda asal Bolaang Mongondow Utara yang kini tinggal di Kota Kotamobagu.

Bakan Ramadan Fest 2026 pun resmi berakhir. Meski ditutup dalam suasana gerimis, festival ini meninggalkan jejak kebersamaan, syiar keagamaan, serta semangat baru bagi pemuda dan masyarakat lingkar tambang, khususnya Bakan.***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan