BITUNG, SULAWESION.COM – Daya beli masyarakat Kota Bitung menyusut menjelang lebaran. Kondisi ini terlihat di Pasar Girian setelah beberapa pekan lalu Pemerintah Kota (Pemkot) Bitung melakukan operasi pasar.
Kebijakan pemerintah melakukan operasi pasar hanya bersifat sementara dan reaktif. Artinya, dalam jangka pendek bisa meredam gejolak, tetapi tidak menyentuh akar persoalan yang lebih dalam.
Daya beli masyarakat menyusut tak terlepas dari tingginya inflasi hingga berdampak pada kenaikan harga sejumlah bahan pokok.
Baca juga: Jelang Lebaran, Aktivitas Belanja Pakaian Thrifting di Pasar Sagerat Alami Penurunan
Rusli salah satu pedagang asal Kelurahan Girian Weru Satu pada Jumat (20/3/2026) mengatakan, kondisi di Pasar Girian dalam beberapa hari terakhir tampak lebih lengang dibanding biasanya.
Ia membeber, daya beli menyusut tak lepas dari lonjakan harga komoditas utama yang cukup signifikan. Salah satunya, kata Rusli, adalah cabai rawit menjadi penyumbang kenaikan tertinggi dengan harga yang kini menembus lebih dari Rp110 ribu per kilogram.

“Harga daging ayam juga dari Rp55 ribu per ekor melonjak tajam menjadi Rp75 ribu,” ucapnya.
Pria paruh baya tersebut juga menegaskan, kenaikan harga memang sudah terjadi secara bertahap, namun dalam sepekan terakhir pergerakannya jauh lebih cepat.
“Kondisi tersebut membuat konsumen mulai mengurangi pembelian, bahkan menunda belanja,” katanya.
Penyusutan daya beli masyarakat ini ditanggapi Pemerhati Ekonomi Sulawesi Utara, Basmi Said.
Basmi menilai penyusutan daya beli disebabkan oleh inflasi tinggi yang menaikkan harga barang pokok di tengah pendapatan riil masyarakat stagnan atau menurun.
“Tapi, bisa saja faktor pendorong lainnya adalah kekhawatiran akan ketidakpastian ekonomi yang membuat masyarakat lebih selektif dan mengurangi belanja,” ucapnya.







