BITUNG, SULAWESION.COM – Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM), menginginkan adanya penguatan kolaborasi antar pemangku kepentingan dalam menghadapi kejahatan transnasional terorganisir, yang berkaitan dengan migrasi tidak teratur di wilayah maritim Indonesia.
Keinginan ini disampaikan Senior Project Associate IOM Martha Triaswinarni Yonida dalam rapat konsultasi peningkatan kesadaran yang berlangsung di salah satu hotel di Kota Bitung, Kamis (12/03/2026).
Menurut Martha, kegiatan ini merupakan bagian dari STREAM Program yang didukung oleh IOM. Program tersebut, katanya, bertujuan membangun pendekatan terpadu lintas sektor guna mencegah dan merespons kejahatan seperti penyelundupan manusia dan perdagangan orang, terutama melalui jalur laut.
Ia membeber Indonesia memiliki lebih dari 17.000 pulau, namun hanya sekitar 3.600 pelabuhan resmi.
“Banyak masyarakat di wilayah perbatasan laut bergantung pada pelabuhan informal yang justru rentan dimanfaatkan oleh jaringan kejahatan transnasional,” beber Martha.
Dalam kegiatan ini, IOM juga memaparkan berbagai inisiatif yang telah dikembangkan, termasuk formulir skrining dan diagram alur identifikasi korban perdagangan orang.







