BITUNG, SULAWESION.COM – Sengketa bisnis arang briket antara dua legislator lintas provinsi Alexander Wenas (NasDem) dan Munawar (PKB) mencapai titik didih.
Bahkan, dua legislator ini memberikan pernyataan berbeda terkait perselisihan perdagangan arang briket jenis tempurung itu.
Munawar saat dikonfirmasi media ini tidak menampik telah mengadukan Alexander Wenas ke Polres Blora pada 21 Februari 2026 lalu.
Politisi PKB itu mengadukan Alexander terkait dugaan penipuan dengan modus jual beli arang briket.
“Iya, saya melaporkan yang bersangkutan ke Polres Blora. Saya juga telah dipanggil penyidik untuk memberikan keterangan. Tapi, dia (Alexander) sudah 2 kali mangkir saat diminta klarifikasi penyidik,” ucap Munawar, sembari meneruskan surat tanda terima laporan pengaduan Nomor: STTLP / 68/II/2026/ Res Blora/ Jateng.
Dasar pelaporan ke Polres Blora, kata Munawar, karena dirinya merasa ditipu yang bersangkutan. Sebelumnya, kerja sama dimulai Juli 2025 dengan pengiriman perdana, lalu berlanjut pada Agustus dengan pesanan 12 ton seharga Rp.15 ribu per kilogram.

“Pengiriman perdana dia (Alexander) hanya mengirimkan 9 ton arang briket. Sementara, di pengiriman ke dua barang tidak kunjung datang meski sudah mentransfer uang sebesar Rp234 juta,” katanya.
Pun demikian, Munawar mengakui tidak ada perjanjian secara tertulis berbisnis dengan Alexander. Ia mengaku percaya yang bersangkutan karena seorang anggota DPRD di Kota Bitung.
“Walaupun tidak ada perjanjian secara tertulis, tapi dalam sengketa bisnis ini saya punya bukti-bukti transfer kepada yang bersangkutan,” beber Munawar.

Sementara Alexander Wenas punya versi berbeda saat ditemui Sulawesion.com, Selasa (7/04/2026) kemarin. Ia menilai Munawar tidak konsisten dengan kesepakatan awal.
“Harga yang ditetapkan sebelumnya, belum termasuk ongkos produksi dan pengapalan. Pasarnya memang seperti itu di Bitung. Jadi keuntungan dibagi setelah ekspor,” ujarnya.
Ia juga menekankan bahwa arang tempurung termasuk barang berisiko sehingga butuh izin khusus untuk masuk petikemas.
Alexander mengaku sudah menerima transfer lebih ratusan juta, namun menyatakan dana itu belum dikurangi biaya produksi.
“Saya siap duduk bersama, menghitung biaya dan bersiap mengembalikan kelebihan uang setelah perhitungan. Tapi, laporan atas tuduhan penipuan saya merasa kecewa,” tutupnya.







