BOLMUT,SULAWESION.COM- Abrasi pantai di desa Busisingo Utara, Kecamatan Sangkub, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) semakin memprihatinkan.
Ratusan kelapa telah hilang. Kini semakin mengancam lahan pertanian dan tak lama lagi bakal mendekati pemukiman warga jika tidak cepat diatasi.
Kondisi abrasi yang semakin parah ini, pada Senin 8 Januari 2026, Bupati Sirajudin Lasena bersama wakil Bupati Bolmut Aditya Pontoh meninjau lokasi.
Saat berada dilokasi mereka berdiskusi langsung dengan kepala desa Busisingo Utara Syahrir Hassan bersama warga yang hadiri.
Sesekali Bupati dan Wabup berbicara dengan kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang (DPUTR) Bolmut Abdul Jalil Pandialang dan Kepala Bapelitbang Bolmut Aroman Talibo.
Pembicaraan ini terkait langkah-langkah yang akan diambil oleh pemerintah daerah terkait penanganan abrasi pantai.
Bupati mengatakan pihaknya pihaknya akan koordinasi dengan Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I dan Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara.

“Kami juga merencanakan penanganan darurat sementara sebagai langka awal mengatasi abrasi yang semakin parah ini,”ujar Bupati Senin 8 Januari 2026.
Sementara itu kepala desa Busisingo Syahrir Hassan menambahkan abrasi pantai ini mengakibatkan daratan berkurang sekitar 30 meter dalam 10 tahun terakhir.
Sebelumnya, ia mengungkapkan Busisingo Utara bakal tenggelam dalam lima tahun kedepan. Jika melihat dampak abrasi saat ini.
Fenomena ini terus terjadi setiap tahun. Apalagi dimulai dari bulan November hingga beberapa bulan kedepan. Banyak pohon kelapa warga yang hilang akibat abrasi.
“Bahkan ada yang sudah menebang duluan kelapanya sebelum terkena abrasi,”kata sangadi, Sabtu 15 November 2025.
Dirinya bercerita dulu pantai ini sering dimanfaatkan untuk bermain sepakbola. Tapi sekarang sudah hilang karena abrasi.
Soal abrasi, selalu pihaknya sampaikan dalam musrenbang dan reses-reses anggota DPRD.
Hassan semakin khawatir soal dampak abrasi ini. Apalagi terkait dengan wilayah di desanya yang bakal cepat hilang daratan.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bolmut Sofianto Ponongoa mengatakan saat ini pihaknya telah mengusulkan proposal pembangungan tanggul penahan abrasi dan banjir pesisir di tujuh desa.
“Diantaranya ada Bolangitang II dan Busisingo Utara,”ujarnya.
Dalam poposal tersebut anggarannya mencapai Rp115 Miliar. Dalam usulan proposal tersebut ditujukan ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Ponongoa menambahkan, usulan tersebut juga tentu melalui kerjasama dengan BPBD Provinsi Sulut dan Balai Wilayah Sungai (BWS).

Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gusti Ayu Ketut Surtiari, menyampaikan perlu ada pengetahuan dan pemahaman yang tepat tentang dampak perubahan iklim yaitu adanya potensi risiko kenaikan muka air laut dan peningkatan arus gelombang laut.
“Dampak lainnya adalah terjadinya intrusi air laut. Akibatnya adalah akan meningkat terjadinya banjir rob yang semakin parah dan abrasi yang membahayakan penduduk yang tinggal di sepanjang pesisir,”ujarnya.
Pemahaman yang tepat akan mengantarkan pada strategi adaptasi yang lebih tepat. Banjir dan abrasi yang terjadi bukan hal yang baru.
Ini sudah terjadi secara berulang namun menjadi lebih intens dan lebih sering dengan dampak yang lebih parah dalam beberapa tahun belakangan ini.
Pembelajaran yang dimaksud adalah melakukan evaluasi atas strategi yang sudah dilakukan selama ini. Apakah upaya mitigasi sudah dilakukan dengan dampak jangka panjang atau masih bersifat reaktif jangka pendek.
Jika jangka pendek, maka kejadian berulang di masa mendatang akan terjadi lagi karena potensi dampak perubahan iklim di masa mendatang akan terus meningkat.
Pemerintah dapat bekerja sama dengan sektor swasta untuk upaya pengurangan bencana banjir dan abrasi. adaptasi, misalnya dapat menanam tanaman penahan air sesuai dengan kondisi tanah pesisir.
“Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri, karena adaptasi perubahan iklim memerlukan kerja sama antara pemerintah, akademisi, dan sektor swasta serta pihak lain,”ungkapnya.
Selain itu perlu kerjasama berbagai pihak termasuk swasta untuk membangun ketahanan pesisir yang terdiri dari pembangunan infrastruktur pelindung kawasan pesisir, regulasi untuk pemanfaatan kawasan pesisir.
“Mulai mempertimbangkan solusi berbasis alam seperti penanaman mangrove atau tanaman pelindung sesuai dengan karakteristik lokasi setempat,”jelasnya.
Sementara itu, Beberapa bulan terakhir di tahun 2025 warga pesisir Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) merasakan dampak abrasi dan banjir pesisir yang berbeda dalam beberapa tahun terakhir.
Disaat bersamaan berdasarkan hasil analisa citra satelit yang dilakukan oleh tim pakar penyusunan dokumen Rencana Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (RPPLH) Bolmut telah kehilangan luasan hutan mangrove mencapai 61,94 Hektar (Ha) dalam beberapa tahun terakhir.
“Bagian terparah Bintauna, Sangkub dan Bolangitang Timur,”ujar Aswar Anas, ahli Geospasial lembaga pengabdian penelitian dan pengembangan Unhas Makassar.
Dirinya mengungkapkan grafik fluktuasi pasang surut ekstrem harian tahun 2020 sampai 2025, pola pasang surutnya sebenarnya relatif konsisten.
“Yaitu bertipe semi-diurnal dengan naik–turun yang berulang sepanjang tahun. Namun, yang menarik adalah perubahan pada besar kecilnya amplitudo,”katanya.
Pada tahun-tahun awal (2020–2022), tinggi pasang maksimum masih cenderung stabil. Memasuki periode 2023 hingga 2025, puncak pasang terlihat lebih sering mencapai nilai yang lebih tinggi, sementara surut minimumnya juga semakin dalam.
Ini mengindikasikan bahwa rentang pasang surut di lokasi ini (Bolmut) mulai membesar. Selain itu, meskipun tidak terlihat lonjakan ekstrem yang tiba-tiba, posisi muka air laut secara keseluruhan tampak sedikit bergeser ke arah yang lebih tinggi pada tahun-tahun terakhir.

Pergeseran ini sejalan dengan indikasi kenaikan muka air laut secara bertahap. Dalam kondisi seperti ini, pasang maksimum yang sebelumnya masih “aman” bisa berubah menjadi pasang ekstrem.
“Terutama ketika bertepatan dengan fase bulan tertentu atau dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan gelombang,”katanya.
Kondisi tersebut menjadi lebih penting untuk diperhatikan karena wilayah ini memiliki ekosistem mangrove yang sudah terdegradasi cukup luas.
Mangrove yang masih utuh biasanya berperan sebagai peredam alami energi pasang dan penjaga kestabilan sedimen pesisir.
“Ketika mangrove berkurang, energi pasang tidak lagi teredam dengan baik, sehingga fluktuasi pasang yang semakin besar akan langsung berdampak ke daratan pesisir,”ungkap Aswar.
Dampak yang paling mungkin dirasakan adalah meningkatnya kejadian banjir pesisir atau rob. Pasang maksimum yang semakin tinggi dan sering dapat menyebabkan genangan berulang, terutama di area rendah dan bekas sebaran mangrove.
“Selain itu, kondisi ini juga berpotensi mempercepat erosi pantai dan memperluas intrusi air laut ke daratan, yang pada jangka panjang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat pesisir,”jelasnya.
Walupun demikian, kata anas faktor lain juga banyak. Selain dari eksostim mangrove itu sendiri, yang mungkin perlu dikaji lebih mendalam.
Seperti topografi bawah lautnya seperti apa, anomali laut 10-20 tahun lalu seperti apa dan sebagainya. Ini memang butuh kajian yang komprehensif dan panjang.
“Tapi untuk saat ini ya eksostim mangrove itu yang menjadi perhatian,”katanya.
Ditanya tentang kenaikan muka air laut, Aswar menuturkan jika dirata-ratakan dalam rentan lima tahun ada kenaikan mencapai 30-50 cm atau sekitar 0,5 amplitudo.







