Perkuat Ketahanan Pesisir Bolaang Mongondow Utara

Potret Desa Busisingo Utara Dari Udara. Pengambilan Gambar Ini Merupakan Instruksi Langsung Oleh Bupati Sirajudin Lasena. (Foto DPUTR Bolaang Mongondow Utara)

BOLMUT,SULAWESION.COM- Dalam kurun waktu satu bulan Bupati Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) Sirajudin Lasena menemui kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I Sugeng Harianto sebanyak dua kali. Hal yang dibahas adalah soal abrasi pantai.

10 Desember 2025 pertemuan pertama membahas masalah abrasi pantai di Bolangitang II. Hari ini 13 Januari 2026 yang dibahas masalah abrasi pantai di Busisingo Utara.

Bacaan Lainnya

Di Bolangitang II abrasi semakin cepat. Dalam beberapa tahun terakhir. Kini sudah semakin dekat dengan rumah warga. Busisingo Utara dalam 10 tahun terakhir 30 meter daratan hilang.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Bolmut menyebut 53,27 persen desa di Bolmut berada pada tepi laut.

Ahli Geospasial lembaga pengabdian penelitian dan pengembangan Unhas Makassar menyebut dalam rentan lima tahun ada kenaikan muka air laut mencapai 30-50 cm atau sekitar 0,5 amplitudo di Bolmut.

Disisi lain Bolmut telah kehilangan luasan hutan mangrove mencapai 61,94 Hektar (Ha) dalam beberapa tahun terakhir.

Pada tahun-tahun awal (2020–2022), tinggi pasang maksimum masih cenderung stabil. Memasuki periode 2023 hingga 2025, puncak pasang terlihat lebih sering mencapai nilai yang lebih tinggi, sementara surut minimumnya juga semakin dalam.

Ini mengindikasikan rentang pasang surut di lokasi ini (Bolmut) mulai membesar. Selain itu, meskipun tidak terlihat lonjakan ekstrem yang tiba-tiba, posisi muka air laut secara keseluruhan tampak sedikit bergeser ke arah yang lebih tinggi pada tahun-tahun terakhir.

Pergeseran ini sejalan dengan indikasi kenaikan muka air laut secara bertahap. Dalam kondisi seperti ini, pasang maksimum yang sebelumnya masih “aman” bisa berubah menjadi pasang ekstrem.

Terutama ketika bertepatan dengan fase bulan tertentu atau dipengaruhi oleh kondisi cuaca dan gelombang.

Kondisi tersebut menjadi lebih penting untuk diperhatikan karena wilayah ini memiliki ekosistem mangrove yang sudah terdegradasi cukup luas.

Mangrove yang masih utuh biasanya berperan sebagai peredam alami energi pasang dan penjaga kestabilan sedimen pesisir.

Ketika mangrove berkurang, energi pasang tidak lagi teredam dengan baik, sehingga fluktuasi pasang yang semakin besar akan langsung berdampak ke daratan pesisir.

Dampak yang paling mungkin dirasakan adalah meningkatnya kejadian banjir pesisir atau rob. Pasang maksimum yang semakin tinggi dan sering dapat menyebabkan genangan berulang, terutama di area rendah dan bekas sebaran mangrove.

Selain itu, kondisi ini juga berpotensi mempercepat erosi pantai dan memperluas intrusi air laut ke daratan, yang pada jangka panjang dapat memperburuk kondisi lingkungan dan mengganggu aktivitas masyarakat pesisir.

Peneliti Ahli Madya di Pusat Riset Kependudukan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Gusti Ayu Ketut Surtiari menyampaikan perlu ada pengetahuan dan pemahaman yang tepat tentang dampak perubahan iklim yaitu adanya potensi risiko kenaikan muka air laut dan peningkatan arus gelombang laut.

Dampak lainnya adalah terjadinya intrusi air laut. Akibatnya adalah akan meningkat terjadinya banjir rob yang semakin parah dan abrasi yang membahayakan penduduk yang tinggal di sepanjang pesisir.

Pemahaman yang tepat akan mengantarkan pada strategi adaptasi yang lebih tepat. Selain pengetahuan dan pemahaman yang tepat, pemerintah dan masyarakat juga harus belajar dari pengalaman (social learning).

Busisingo Utara dan Bolangitang II adalah salah satu potret nyata bagaimana kita harus segera memperkuat ketahanan pesisir.

 

 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan