BOLMUT,SULAWESION.COM- Sebuah ironi ketika Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) sering disebut-sebut menjadi salah satu daerah dengan produksi padi dan beras tertinggi di Sulawesi Utara (Sulut) namun dalam beberapa tahun terakhir beras dari Sulawesi Tengah dan Gorontalo banyak ditemukan di Bolmut.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Kabupaten Bolmut merupakan tiga daerah di Sulut dengan produksi padi (Gabah Kering Giling) tertinggi pada tahun 2024 bersama Bolaang Mongondow dan Minahasa.
Pada tahun 2024 produksi padi (GKG) di Bolmut mencapai 23.311 ton. Naik dibandingkan pada tahun 2023 19.191 ton.
Bolmut juga berdasarkan data BPS pada Sobround Januari-April 2025. Adanya potensi kenaikan produksi padi yang cukup besar.
Laporan BPS menyampaikan produksi beras di Bolmut naik pada tahun 2024 mencapai 13.099 ton dibandingkan tahun 2023 diangka 10.784 ton.
Produksi beras Januari-April 2024 mencapai 6.810 ton sementara pada tahun 2025 periode Januari-April produksi beras 8.560 ton (data BPS angka sementara).
Walau demikian luas panen padi di Kabupaten Bolmut mengalami penurunan pada tahun 2024 yaitu 5.545 Hektar (Ha) dibandingkan tahun 2023 diangka 5.546 Ha.
Bolmut juga disebut-sebut sebagai salah jantung lumbung pangan di Sulut oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala SNVT pelaksana jaringan sumber air BWS Sulawesi 1 Alvianus Palisungan menurutnya Bolmut masuk Inpres tentang irigasi. Karena salah satu jantung lumbung pangan di Sulut.
Kehadiran Inpres tersebut bagian dari memperkuat ketahanan pangan. Hal ini diungkapkan Palisungan saat diwawancarai pada Kamis 15 Januari 2026 dilokasi Pantai Batu Pinagut.
Selain kehadiran beras dari Sulawesi Tengah di Bolmut. Ternyata beberapa alat atau mesin panen padi juga kebanyakan para petani sewa dari wilayah Sulteng.
Hal ini diungkapkan oleh satu petani asal Pinogaluman yang membantu ayahnya. Menurutnya alat panen biasanya mereka sewa dari Sulteng.
“Setau saya sudah lima tahun terakhir ini mesin panen padi dari Sulteng yang datang,”ujarnya.
Dengan menyewa mesin panen padi combine harvester biasanya pihaknya bayar pakai gabah.
“Kalau tahun lalu saat panen setiap kelipatan sembilan karung gabah satu karung gabah untuk tukang jonder,”katanya kepada media ini.
Menurutnya ada juga mesin panen padi dari Gorontalo masuk disini (Pinogaluman) Hanya saja pembayaran mereka maunya uang.
Ia mengungkapkan menggunakan mesin panen padi dari Sulteng juga bukan tanpa alasan. Pasalnya panen cepat dan bersih hasilnya.
Dia menambahkan alat dan mesin pertanian disini belum mampu menanggulangi saat panen. Pasalnya panen bersamaan.
“Terus lagi bak penampung untuk penjemuran padi sedikit,”katanya.
Sebelumnya diketahui Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menyalurkan bantuan Combine Harvester ke Kelompok tani (Poktan) Tampo Damba III desa Tuntulow Utara, Kecamatan Pinogaluman, Selasa 5 Agustus 2025.
Bantuan tersebut diserahkan langsung oleh Bupati Bolmut Sirajudin Lasena didampingu wakil Bupati Aditya Pontoh. Combine Harvester sendiri merupakan bantuan dari pemerintah Provinsi Sulut.

“Saya berharap bantuan ini digunakan dan dirawat dengan baik serta bermanfaat bagi petani,”ujarnya.
Sementara itu, Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluh Dinas Pertanian Bolmut Syarifuddin mengatakan ada beberapa keuntungan dari pentingnya teknologi pertanian terutama teknologi panen padi.
“Yaitu pada saat panen cepat. Hemat tenaga. Satu alat panen dapat mengolah lahan sekitar 50 Hektar (Ha) per musim panen. Hingga hemat biaya,”ujarnya.
Dirinya menambahkan dengan ada teknologi padi saat panen dapat meningkatkan produksi padi.







