Budpar

La Galigo dan Keunggulan Perantau

Awal pekan lalu, tepatnya, Senin, 4 Maret, Pengurus Besar Keluarga Bugis Sidenreng Rappang (PB KEBUGIS) kembali menggelar kuliah Ramadan bersama narasumber Prof. Dr. Nurhayati Rahman (Nurhayati), pakar filologi dan naskah La Galigo dari Universitas Hasanuddin Makassar.

Sebelum presentasi dan dialog interaktif dimulai, Bapak Irjen Pol (Purn) Dr. M. Said Saile, memberi pengantar, berterima kasih kepada seluruh peserta kuliah Ramadan online, khususnya kepada Prof. Nurhayati Rahman yang berkenan hadir dan berbagi ilmu langkah. Acara diskusi dipandu oleh M. Saleh Mude dan sebagai Host acara, Hadiamin Kadir.

Nurhayati mengawali kuliah online atau daringnya dengan menyebut tiga hal penting yang patut dibanggakan dan disyukuri oleh orang Bugis, karena memiliki warisan La Galigo, yakni: (i) orang Bugis di era itu memiliki huruf (alfabet), tulisan, tradisi literasi yang begitu kuat; (ii) memiliki warisan tertulis (karya sastra) yang terpanjang di dunia; dan (iii) itu mencirikan orang Bugis memiliki tradisi intelektualisme yang kuat.

La Galigo adalah sebuah karya sastra monumental, bernilai tinggi, terjadi sebelum Islam ada di Sulawesi Selatan, diperkirakan pada abad ke-7 hingga 9 oleh Prof. Mattulada;  abad ke-13 oleh Prof. M. Fachruddin Ambo Enre, dan abad ke-14 Masehi oleh Prof. Pelras, penulis buku “The Bugis”.

Susah dibayangkan ketika itu, belum ada komputer atau laptop, listrik, dan kertas, tapi mereka bisa menghasilkan karya sastra dalam jumlah banyak dan benilai tinggi. Mereka menulis di daun lontar. Naskahnya disebut Lontarak.

Ciri khas karya La Galigo adalah terdiri dari lima (5:5) penggalan elong (kata, lagu). Karya-karya mereka disosialisasikan dan ditampilkan di panggung rakyat atau di hadapan publik (mirip tradisi belajar di Athena era Socrates dkk, penulis).

Ahli Lontarak disebut Passurek. Tokoh-tokohnya sangat komplek. Hingga kini baru tiga jilid yang telah diterbitkan dari 12 jilid koleksi B.F. Matthes (1818-1908). Ke-12 jilid itu oleh para ahli dianggap baru sepertiga dari jumlah keseluruhan naskah La Galigo dan 12 jilid inilah yang dikukuhkan oleh Unesco, terdiri 300.000 bait.

Sebarkan:

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler Minggu Ini

To Top