Budpar

La Galigo dan Keunggulan Perantau

Jangan lupa baru satu koleksi, koleksi Matthes. Masih ada 9 jilid yang belum diterjemahkan dan masih banyak koleksi naskah-naskah La Galigo yang belum disentuh dan dihitung serta diolah untuk dipublikasikan seperti koleksi Jonker, koleksi Jerman, koleksi Deventer, koleksi Prancis, Malaysia, Singapura, Jakarta, Rusia, Australia, koleksi Harvard University, koleksi Library of Congress Amerika, dan sebagainya.

Makanya para ahli berpendapat bahwa 12 jilid La Galigo yang dikukuhkan sebagai Memory of the Word itu, baru sepertiga dari jumlah keseluruhan naskah La Galigo, ini pun sudah menyalip naskah-naskah sastra seperti Mahabharata India dan Odyssey karya Homer di Yunani Kuno, yang awalnya diklaim sebagai yang terpanjang di dunia. Jadi sekali lagi 12 jilid koleksi Matthes ini baru tiga yang diterbitkan. Ada juga naskah La Galigo yang telah diterjemahkan oleh Almarhum Muhammad Salim tapi menurut para ahli Belanda-Indonesia, itu tidak layak diterbitkan karena tidak memenuhi standar akademik, sehingga Belanda melarang untuk diedarkan,  lanjut Nurhayati.

Ciri khas pengikut La Galigo adalah penjelajah yang berani mengarungi laut, dan memiliki prinsip, di mana kita hidup, di sanalah kita membangun. Sebaran generasi La Galigo, terutama era Sawerigading telah mencakup hampir seluruh Nusantara. Tidak berlebihan jika disebutkan bahwa merekalah sebagai pemersatu Nusantara.

Abad-abad setelah era La Galigo, sebagai penaklut lautan dan ombak bebas, diwarisi oleh anak-anak Sulawesi Selatan hingga hari ini sebagai perantau. Perantau yang menjunjung tinggi dan menegakkan prinsip hidup atau harga diri  yang disebut “siriq’” di mana pun mereka merantau.

Umumnya perantau Bugis, yang pertama didatangi adalah masjid dan pasar, dengan sistem bisnis yang berkoloni, dan secara perlahan, sebahagian mereka masuk dan menguasai pemerintahan, dengan diplomasi, kepemimpinan, atau mengawini anak raja atau pejabat. Prinsip hidup orang Bugis adalah, “di mana tanah dipijak di sana siriq ditegakkan”.

Semakin tinggi ilmunya, semakin jujur, semakin bersatunya kata dengan perbuatan, berani, jujur, sosial, solidarit tinggi, santun, dan rela berkorban demi solidaritas, kalau perlu nyawa sekalipun mereka korbankan. Maka semakin tinggi pula kadar siriq seseorang, makanya di mana pun orang Bugis berada di situlah mereka menyatu dengan masyarakat karena baginya, tanah rantau adalah tanah tumpah keduanya karena tempat itulah yang memberi mereka kehidupan.

Itulah sebabnya orang Bugis gampang menyatu dengan rakyat tempat rantaunya karena  mereka memiliki  tingkat adaptasi yang sangat tinggi, menyebabkan mereka dapat  diterima oleh semua orang, pungkas Nurhayati. (*)

Ditulis oleh: M. Saleh Mude, Ketua PB Kebugis.

Catatan: tulisan ini telah dikoreksi oleh Prof. Nurhayati Rahman.

Sebarkan:

Laman: 1 2

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler Minggu Ini

To Top