Budpar

Me’eraji, Ritual Penolak Bala di Gorontalo Penanda Ramadan Tiba

Selain menjadi penanda bahwa sebentar lagi Ramadan tiba, tradisi Me'eraji juga jadi cara masyarakat Gorontalo untuk menolak bala, seperti virus corona misalnya. (Liputan6.com)

GORONTALO – Setiap daerah mungkin punya cara dan tradisi tersendiri dalam menyambutan bulan suci Ramadan. Seperti halnya di Gorontalo, masyarakat Gorontalo mempunyai tradisi tua yang dikenal dengan nama Me’eraji.

Tradisi ini sudah ada di Gorontalo seiring dnegan masuknya Islam ke wilayah tersebut. Me’eraji biasa digelar setiap malam Nisfu Syaban yang biasanya dirangkai dengan Isra Mikraj.

Dalam tradisi ini ada pembacaan naskah aksara Arab yang ditulis menggunakan bahasa Gorontalo, jumlahnya ratusan lembar. Naskah itu menceritakan perjalanan Nabi Muhamad SAW , dan harus selesai dibaca sampai sepertiga malam. Proses pembacaannya dilakukan secara bergantian.

BACA JUGA: Terduga Penyebar Hoaks Corona Ditangkap Polisi Gorontalo

Masyarakat Gorontalo mengenal tradisi warisan leluhur itu sebagai pertanda bahwa bulan Ramadan akan segera tiba. Kumandang Me’eraji ini yang memberikan suasana gembira bagi masyarakat yang mendengarnya.

“Kalau sudah terdengar kumandang Me’eraji di masjid, masyarakat Gorontalo pasti tau bahwa bulan Ramadan akan segera tiba,” kata Ujon Ishak Daud, seorang panitia penyelenggara.

Dewan Adat Desa Keramat, Yamin Husain mengatakan, tradisi Me’eraji tidak dilakukan sembarangan, pelaku ritual harus menyiapkan kemenyan, bara api, meja kecil, kain putih sebagai penutup kepala, dan segelas air putih.

Yamin juga mengatakan, dalam naskah yang dibacakan itu terkandung pesan-pesan moral yang mendalam, pelajaran agama, dan etika, yang mengajak semua masyarakat berbudi luhur terhadap sesama makhluk Allah.

Masyarakat menganggap, Me’eraji bukan sekadar tradisi, tapi juga dipercaya sebagai ritual penolak bala yang melanda satu negeri, seperti wabah penyakit virus corona misalnya.

BACA JUGA: Satu Positif Corona, Jamaah Tabligh yang Ikut Pertemuan di Gowa Diminta Jujur Melaporkan Diri

“Tradisi ini juga dianggap akan mendatangkan rezeki bagi orang yang percaya dan sebagai penolak bala, apalagi negeri saat ini lagi sakit akibat corona,” katanya.

Seiring berjalannya waktu, tradisi jelang Ramadan ini mulai memudar dan ditinggalkan, terlebih di kalangan milenial. Padahal dahulu anak-anak muda Gorontalo selalu berdatangan ke masjid saat ritual tersebut digelar menyambut Ramadan.

“Dulu orang Gorontalo paling suka kalau ada Me’eraji. Mereka bergerombol mendekati tempat-tempat Me’eraji diselengarakan,” kata Abdullah, Pakaya salah satu pembaca naskah Me’eraji.

(liputan6)

Sebarkan:
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler Minggu Ini

To Top