Jelang GPC 2026: Komiten Pemkot Manado Atasi Sampah di Kawasan Pesisir

Pertemuan Panitia GPC Bersama Kadis DLH Manado. (Dok SIEJ Sulut)

MANADO,SULAWESION.COM- Pemerintah Kota (Pemkot) Manado lewat Dinas Lingkungan Hidup (DLH) menyatakan dukungan penuh pada pelaksanaan Green Press Community 2026.

Event akbar jurnalis lingkungan yang akan bergulir pada 7 Februari nanti disebut linear dengan semangat pemerintah mengatasi persoalan sampah di kawasan pesisir Manado.

Bacaan Lainnya

Kepala DLH Manado, Drs Pontowuisang Kakauhe, yakin Green Press Community atau GPC 2026 akan menawarkan banyak solusi positif untuk meredam persoalan lingkungan khas perkotaan.

“Ini event yang positif dan saya kira semangatnya sama dengan upaya kami dalam menanggulangi persoalan persampahan di Kota Manado,” kata Yakang Pontoh, begitu lelaki berdarah Nusa Utara ini biasa disapa, Selasa 27 Januari 2026.

Langkah konkret dan taktis instansi teknis yang dia pimpin dalam menanggulangi sampah urban, dipaparkan dalam diskusi bersama Panitia Pelaksana GPC 2026.

Kegiatan lingkungan berwarna literasi itu rencananya berlangsung di Hotel Sutan Raja Minahasa Utara, mengambil tema besar “Jurnalisme Melindungi Kawasan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil”.

Komitmen menjaga pesisir dari sampah, menurut Pontoh, antara lain dilakukan dengan mengerahkan kekuatan penuh instansi lewat petugas kebersihan.

Upaya juga dilakukan hingga pemerintah kelurahan dan lingkungan terdekat di pesisir Manado.

Namun tantangan besar yang dihadapi adalah mengubah mindset masyarakat untuk memilah sampah mulai dari titik paling hulu yaitu rumah tangga.

“Bila masyarakat sudah memilah sampah dari rumah artinya ini akan memudahkan sistem pengelolaan sampah di tahap paling ujung yaitu TPA (tempat pembuangan akhir),” kata dia.

Persoalan sampah juga dihadapi DLH dengan pola terukur. Sebab menurut Pontoh, penanganannya terkait dengan berbagai aspek termasuk kualitas air dan udara.

Hal ini sejalan dengan roadmap pemerintah Indonesia yaitu bisa bebas dari polusi sampah plastik pada 2040.

Menurut Pontoh langkah memenuhi target itu sudah dimulai, di mana pada 2029 diharapkan produsen bisa mengurangi sampah kemasan hingga 30 persen.

Sebagai relevansi penanganan, DLH Manado juga perlu memastikan teknologi tepat guna untuk mengatasi sampah, agar tidak mengancam kualitas air atau udara.

“Kita terus upayakan menghadirkan tempat pengolahan sampah di skala pemukiman agar hanya residu yang dikirim ke TPA, karena memang rencana di TPA Sumompo kita bakal ubah perwajahannya menjadi lebih ‘ramah’, caranya seperti apa tunggu saja action kami di Bulan Juni tahun ini,” jelas dirinya.

GPC 2026 sendiri menargetkan kehadiran 1.000 peserta dalam dan luar daerah. Giat besutan The Society of Indonesia Environtmental Journalist (SIEJ) itu bakal menghadirkan puluhan NGO dan pakar lingkungan nasional maupun internasional untuk berbicara persoalan ekologi hingga teknologi pendamping.

“Sebagai provinsi kepulauan dengan kekayaan biodiversitas laut dan pesisir yang tinggi, Sulawesi Utara dipilih menjadi tuan rumah karena dihadapkan pada tantangan serius terkait pencemaran laut, perubahan iklim, konflik ruang pesisir serta tekanan pembangunan,” jelas Sekretaris SIEJ Sulawesi Utara, Julkifli Madina.

Lewat forum ini, Julkifli berharap akan menghasilkan berbagai rekomendasi kebijakan yang berpihak bagi kelestarian ekologi, terutama pada ruang laut, pesisir, pulau kecil, masyarakat adat dan nelayan tradisional.

“Kita pertemukan pelaku lintas pihak, masyarakat dan pembuat kebijakan agar rekomendasi ini benar-benar membawa manfaat besar untuk publik dan terutama untuk lingkungan,” kata Julkifli.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan