Fenomena La Nina yang sebelumnya memicu peningkatan curah hujan di sejumlah wilayah Indonesia kini dilaporkan telah berakhir.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperkirakan kondisi iklim global akan mulai bergeser menuju El Nino, yang berpotensi membuat cuaca di Indonesia menjadi lebih panas dan kering.
BMKG menyebutkan, perubahan kondisi iklim tersebut dapat mempengaruhi pola musim di Indonesia sepanjang tahun 2026.
Salah satu dampaknya adalah musim kemarau yang diprediksi datang lebih awal dibandingkan biasanya.
Selain itu, musim kemarau tahun ini juga diperkirakan berlangsung lebih kering di berbagai daerah. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, terutama di wilayah yang selama ini bergantung pada curah hujan untuk sektor pertanian dan sumber air.
BMKG menjelaskan bahwa peluang terbentuknya fenomena El Nino diperkirakan mulai meningkat pada pertengahan tahun 2026. Saat ini probabilitas kemunculannya diperkirakan berada pada kisaran 50 hingga 60 persen.
Peralihan dari La Nina ke El Nino merupakan bagian dari siklus iklim global yang terjadi secara berkala.
Namun demikian, BMKG mengimbau masyarakat dan pemerintah daerah untuk mulai meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi dampak yang ditimbulkan, seperti kekeringan, berkurangnya ketersediaan air, hingga ancaman gagal panen di sektor pertanian.
BMKG juga mengingatkan agar sektor terkait, khususnya pertanian dan pengelolaan sumber daya air, dapat melakukan langkah-langkah antisipasi sejak dini guna meminimalkan dampak yang mungkin terjadi.







