Nama: Noufryadi Sururama, S.Farm
Status: Warga Sipil
Aktivitas hidup manusia dipenuhi sampah! Ini bukan sekadar opini kosong, melainkan sintesis “kapitalisme industri” yang “dilumrahkan” melalui pola “human sociality”.
Kita hidup di kubangan persampahan. Bagaimana tidak, jika pelestarian lingkungan hanya berhenti pada ajakan memilah sampah rumah tangga, membawa tas kain, atau menanam pohon tanpa membongkar struktur produksi yang melahirkan sampah massal, maka ia tidak lebih dari terapi psikologis bagi kelas bawah dan menengah; sebuah ekologis kosmetik yang memoles citra korporasi, namun tidak menyentuh akar permasalahan.
Pelestarian lingkungan tanpa kesadaran kelas hanyalah ilusi moral semata. Alih-alih menyadarkan kesadaran kolektif, bermuara gerakan tanpa makna. Yang kemudian menambal dengan jargon “daripada tidak sama sekali atau cuma ngoceh, mending dimulai dari hal-hal kecil”.
Semua permasalahan lingkungan hari ini seringkali direduksi menjadi permasalahan partikular-individual. Padahal “akar permasalahan lingkungan” sejak awal revolusi industri adalah “industrialisasi itu sendiri”!
Narasi “aktivisme lingkungan” seharusnya menjadi “gerakan pembebasan ekologis”, bukan sekadar “ritual moral individual” yang dipajang sebagai “etika konsumsi”. Ia mesti berangkat dari kesadaran kolektif bahwa krisis ekologis bukan sekadar akibat perilaku manusia sebagai individu, melainkan hasil dari relasi produksi yang memaksa manusia hidup dalam sirkulasi konsumsi tanpa henti.
Artinya, sebuah pola yang diperburuk oleh “kapitalisme lanjutan”, memprivatisasi hampir seluruh kebutuhan primer manusia, dan menjajakannya sehingga membuat ketergantungan kronis menghasilkan limbah sampah yang sebenarnya tidak perlu.
Dalam perspektif filsafat lingkungan-radikal, krisis ekologis modern lahir dari tiga fondasi utama. Pertama, pemisahan manusia dari alam. Ialah ketika modernitas industri memposisikan alam sebagai objek mati yang dapat dieksploitasi.
Alam tidak lagi dipahami sebagai relasi timbal balik, melainkan komoditas. Ketika hutan menjadi “sumber daya”, laut menjadi “cadangan protein”, dan tanah menjadi “aset properti”, maka kehancuran ekologis bukan kecelakaan tetapi konsekuensi logis akibat ketamakan manusia.
Kedua, logika akumulasi tanpa batas. Kapitalisme industri beroperasi dengan prinsip “pertumbuhan tak terbatas di planet yang terbatas”. Ini adalah kontradiksi ontologis. Produksi harus meningkat, konsumsi terus dipacu, dan siklus barang dipercepat.
Ketiga, individualisasi tanggung jawab. Kesadaran ekologis direduksi menjadi tanggung jawab personal, misalnya jangan pakai sedotan plastik, hemat listrik, dan sistem daur ulang. Padahal, sebagian besar kerusakan ekologis berasal dari industri ekstraktif dan manufaktur skala besar. Dengan mengindividualkan persoalan, sistem berhasil mengaburkan relasi kuasa produksi.
Di sinilah kritik kelas menjadi penting. Siapa yang memproduksi limbah terbesar? Siapa yang paling diuntungkan dari produksi massal? Siapa yang paling terdampak dari kerusakan lingkungan? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini hampir selalu mengikuti garis kelas sosial.
Ketika kesadaran kelas absen, gerakan lingkungan mudah terjebak dalam romantisme hijau; berkebun, menanam pohon, aksi bersih-bersih lingkungan, dan hidup minimalis secara individual. Semua itu memang baik, namun tidak cukup.
Tanpa analisis struktural, aktivitas tersebut tidak mengganggu mesin produksi yang terus menciptakan kemasan. Akibatnya, pelestarian lingkungan menjadi simbol identitas gaya hidup, produk “pemasaran hijau”, dan kegiatan karitatif tanpa transformasi struktural.
Kita sering lupa atau memang tidak tahu, jika kesadaran ekologis harus melampaui moralitas personal menuju kesadaran kolektif tentang relasi produksi dan distribusi itu sendiri.
Solusi Konkret dan Struktural
Sebelum menyasar industrialisasi secara langsung, masyarakat perlu direkonstruksi pemahamannya berdasarkan “rasio kebutuhan” yang notabene menjadi titik awal nilai dari keberlanjutan itu sendiri.
Sistem saat ini menciptakan kebutuhan semu yang terus diperbarui melalui iklan, tren, dan percepatan gaya hidup. Tanpa redefinisi kebutuhan, keberlanjutan hanya akan menjadi slogan.
Jika masyarakat sudah bergantung penuh pada akses layanan yang serba cepat, cepat saji, maka perlu formulasi tingkat tinggi agar keinginan untuk mendapatkan sesuatu yang menghasilkan sampah dapat dikurangi dengan pendekatan aspek alamiah bersifat jangka panjang.
Pertama, desentralisasi produksi pangan. Yang mana mendorong pertanian komunitas berbasis kebutuhan lokal, bukan pasar global. “Urban farming” bukan sekadar hobi, tetapi upaya mengurangi ketergantungan pada rantai distribusi industri yang menghasilkan limbah kemasan besar.
Kedua, tekanan politik terhadap industri. Gerakan lingkungan harus bertransformasi menjadi gerakan politik. Artinya, menuntut regulasi kemasan sekali pakai, pajak tinggi untuk industri polutan, dan transparansi produksi limbah korporasi.
Ketiga, pendidikan ekologis berbasis kelas. Kesadaran lingkungan perlu diintegrasikan dengan kesadaran sosial-ekonomi. Sekolah dan komunitas harus membahas hubungan antara kemiskinan, eksploitasi sumber daya, dan krisis lingkungan.
Keempat, rekonstruksi budaya kebutuhan. Bangun budaya yang menghargai keberlanjutan jangka panjang, bukan kepuasan instan. Ini bukan “kampanye hemat” tapi transformasi nilai; dari konsumsi menuju keberlangsungan.
Menurut hemat penulis, pelestarian lingkungan tidak cukup jika hanya menjaga pohon dan sungai, tetapi membongkar sistem yang menjadikan alam sebagai objek eksploitasi tanpa batas. Tanpa kesadaran kelas, gerakan hijau mudah menjadi dekorasi moral bagi sistem yang tetap merusak.
Maka tugas utama hari ini bukan cuma membersihkan sampah. Jika kesadaran ekologis bertemu dengan kesadaran kelas, pelestarian lingkungan tidak lagi menjadi ilusi moral semata, melainkan gerakan pembebasan kehidupan dari jeratan kubangan persampahan yang kian hari makin dalam dan meluas.







