Pendidikan

Ikut Wisuda UIN Sunan Ampel Bersama 774 Peserta, Novi Sebut Cadar Bukan Penghalang Torehkan Prestasi

Novita Saskia K

ENREKANG, SULSEL – Rektor UIN Sunan Ampel Surabaya mengukuhkan 774 Peserta Wisudawan ke-91 mulai dari Jenjang Sarjana (S1), Magister (S2) dan Doktor (S3) di Gedung Sport Center and Multipurpose UINSA. Acara wisuda ini dilakukan secara online dikarenakan kondisi wabah covid-19, pada Selasa, 8 September 2020 kemarin.

Sejumlah Wisudawan yang dikukuhkan, UIN Sunan Ampel Surabaya, salah satunya Novita Saskia K, Mahasiswi perantauan asal Sulawesi Selatan, tepatnya berasal dari Kabupaten Enrekang, yang berhasil menorehkan prestasi non akademik dari 11 wisudawan berprestasi akademik dan 7 Wisudawan Berprestasi Khusus.

Baca Juga: Dinas Dikbud Enrekang Beri Atensi Serius untuk Pelestarian Musik Tradisional

Perempuan bercadar kelahiran 17 Februari 1998, berhasil menempuh selama 3 Tahun 6 Bulan jenjang Pendidikan Strata I, pada Fakultas Syariah dan Hukum dengan Program Studi Hukum Tata Negara.

Novi sapaan akrabnya mengatakan meski menjalani kehidupan diperantauan sebagai seorang Mahasiswi dirinya senantiasa berupaya untuk hidup mandiri. Bahkan dengan Cadar yang ia kenakan tak menghalangi langkahnya untuk aktif dalam Organisasi Kemahasiswaan dengan tercatat sebagai Sekjen Himpunan Mahasiswa Program Studi Hukum Tata Negara tahun 2018/2019, ia juga merupakan Koordinator Ikatan Mahasiswa Darah Sulawesi UINSA (IKMADAS) Tahun 2016-2019), Pengurus besar Asosiasi Mahasiswa Hukum Tata Negara Se-indonesia dan juga aktif dalam kepengurusan Organisasi Kedaerahan.

“Setiap orang pasti ingin menjadi lebih baik dari sebelumnya, bukankah menjadi baik itu baik?. Menjadi salah satu hamba yang terbaik di mata Allah dan menjadi anak yang berbakti kepada orang tua adalah pegangan saya.. Dan tidak akan mungkin bisa seperti ini kalau bukan didikan, dan doa orang tua. Meskipun saya terlahir dari keluarga yang sederhana, itu bukan penghalang saya untuk selalu mau belajar dan berkarya. Sejak kecil kami sudah didik dalam ruang pendidikan, adab, dan ketaatan kepada Allah SWT. Orang tua saya selalu berpesan agar segala sesuatu yang kami lakukan agar diawali dengan niad yang baik, selalu bersyukur sekecil apapun itu, agar Allah swt meridhoi setiap langkah kami,” Ujar Novi saat dikonfirmasi, Jumat (11/9/2020).

Kendati di Indonesia cadar atau niqab masih dipandang sebagai sesuatu yang ekstrim, banyak yang beranggapan bahwa cadar terkesan tertutup. Wanita bercadar biasanya memiliki sifat yang menutup diri, sehingga banyak orang yang beranggapan bahwa jika bercadar dapat menghalangi diri dalam bergerak dan meraih prestasi. Namun anggapan itu tidak sepenuhnya benar, masih ada wanita-wanita bercadar yang dalam kesehariannya aktif dan komunikatif sehingga memiliki prestasi.

Salah satu alasan Novi memakai cadar karena mengingat saat itu ia merantau sendiri kuliah di surabaya sementara ia perempuan, dengan bercadar setidaknya bisa menjaga dirinya dari gangguan lawan jenis. Ia merasa bahwa justu dengan bercadar ia merasa lebih nyaman.

Novi mengaku selama ia mengenakan cadar di tanah rantau cobaan datang bertubi-tubi. Ia sering kali mengalami situasi yang genting yang memaksakan ia membuka cadarnya. Terlebih pasca pengeboman di Kota Surabaya yang mana pelakunya rata-rata mengenakan cadar dan saat itu banyak di bincangkan oleh publik, fobia cadar merajalela, bahwa yang bercadar adalah teroris. Padahal sesungguhnya hal itu tidak bisa kita sama ratakan.

“saat pengebomban di surabaya rasanya begitu berat untuk saya, terlebih saat ada pelarangan cadar di kampus rasanya begitu berat ketika masuk ke kampus, terlebih saat itu ketika kuliah di kelas ada beberapa dosen yang saya temui melarang saya bercadar ketika kuliah berlangsung, saat itu saya tetap tidak ingin membuka cadar saya, saya sudah tau imbasnya kalo saya tidak lulus di mata kuliah ini saya pasti akan dapat nilai rendah dan saya di ancam untuk tidak bisa mengikuti pelajaran di kelas ketika tidak melepas cadar, saya dikatakan sok suci, berpenampilan yang sewajarnya saja tidak usah berlebihan karena cadar itu bukan syariat,” ungkapnya.

Meski sejumlah tudingan diarahkan kepada dirinya Mahasiswi asal Kabupaten Enrekang yang menempuh jenjang Pendidikan di tanah rantau ini tidak sedikit pun menyimpan dendam.

“kalo kamu takut berdosa lepas cadar kamu, saya yang tanggung dosanya, sungguh menjerit hati saya tak kuasa menahan air mata di balik cadar saya, saat itu saya tak pernah menyimpan dendam atau benci kepada siapapun yang mancaci cadar. saya hanya bisa mendoakan semoga Allah melembutkan hatinya. Saya juga sangat bersyukur karena saat itu banyak teman-teman saya yang selalu support saya dan juga orang tua saya yang selalu mengajarkan saya untuk tetap bersabar sebab inilah konsekuensi bercadar kita memang harus siap menerima ujaran, dan alhamdulillah setelah bertahun-tahun di surabaya sampai saya bisa mendapat gelar sarjana hukum, Allah masih tetap memberikan saya kekuatan sehingga saya masih bisa bertahan dan istiqomah dengan cadar saya,” urainya.

Baca Juga: Gelar E-Bimtek Dinas Pendidikan Enrekang Libatkan Tenaga Pengajar

Kehidupannya diperantauan tak dipungkiri olehnya mendapatkan banyak keajaiban salah satunya dengan menyelesaikan Pendidikan Strata I tepat waktu meski kerap mendapat teguran dari pengajarnya untuk tidak menonjol aktif di depan umum ketika ada kegiatan kampus, bahkan dirinya juga mengaku sempat mendapat makian dari pengajarnya namun baginya cacian maupun makian dari orang yang lebih tua merupakan nasehat.

“Sungguh Allah membolak-balikkan hati manusia, bagi saya mungkin wajar saja bila ada yang mencurigai novi karena mereka belum kenal baik dengan novi,” tutupnya.

 

(Bobby)

Sebarkan:
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler Minggu Ini

To Top