Sulut

JRBM-ASA Gaet Perusahaan Asal Dubai Beli Cengkih dan Pala Sulut

SULAWESION.COM – Komoditi perkebunan Sulawesi Utara (Sulut) jadi daya tarik pasar dunia. Kali ini trader “Commodity Line”, perusahaan perdagangan Internasional yang berkantor pusat di Belanda dan memiliki beberapa kantor cabang salah satunya di Dubai bekerja sama dengan salah satu startup agritech commodities, PT Indonesia Agrikultur dan Komoditas (inacom.id) tertarik membeli dua komoditi utama di Sulut.

Cengkih dan pala jadi incaran perusahaan tersebut. Keseriusan mereka dibuktikan dengan melakukan survey pasar. Mengunjungi pengumpul cengkih di Kota Kotamobagu dan perkebunan cengkih di wilayah Kabupaten Bolaang Mongondow (Bolmong), Jumat (23/8).

Ahmadu Navfal perwakilan Commodity Line kepada wartawan mengungkap keinginan mereka membeli rempah-rempah asal Sulut. “Untuk saat ini kami tertarik dengan cengkih dan pala,” ujarnya disela-sela pertemuannya dengan salah satu pengumpul cengkih di Jalan Veteran, Kotamobagu.

Sang pengepul, Pak Haji –sapaannya— mengungkap tertarik melakukan transaksi dengan Commodity Line. Selama ini, menurut Pak Haji pihaknya menjual cengkih mereka ke salah satu pengumpul besar di Manado.

“Kami siap melayani pembelian. Dan kami merasa bersyukur cengkih asal Sulut utamanya Bolaang Mongondow Raya ada perusahaan luar negeri tertarik membelinya. Dan ini positif bagi petani,” ujarnya.

Ahmadu Navfal saat melihat langsung salah satu perkebunan cengkih di Kecamatan Lolayan mengakui kualitas cengkih di Sulut seperti mereka inginkan.

Selain cengkih dan pala, Ahmadu Navfal juga mengujungi salah satu perkebunan Kakao di Desa Bakan. Meski belum ingin membeli komoditi kakao, pihaknya menyatakan kedepan mereka tetap akan melirik komoditi yang sedang banyak dibudidayakan masyarakat Kabupaten Bolmong tersebut.

“Saat ini kami fokus di rempah-rempah cengkih dan pala. Kalau kakao mungkin di bulan-bulan berikutnya,” ujar Ahmadu Navfal.

Menariknya, ketertarikan perusahaan asal Dubai ini membeli cengkih dan pala Sulut atas kontribusi dua anak perusahaan PT J Resources Nusantara (JRN) antaranya PT J Resources Bolaang Mongondow (JRBM) dan PT Arafura Surya Alam (ASA).

Buktinya, saat Commodity Line melakukan survey didampingi langsung tim JRN yang terdiri dari Muhammad Rudi Rumengan (Superintendent CSR JRBM),Marta Agung Budiarto (PT ASA) dan sejumlah pihak lainnya.

Muhammad Suhada, selaku GM CSR PT JRN, mengungkapkan keterlibatan mereka menggaet ataupun mempromosikan komoditi perkebunan Sulut merupakan komitmen perusahaan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya petani.

“Kalau banyak trader tertarik dengan komoditi perkebunan Sulut tentu akan mempengaruhi peningkatan nilai komoditas. Arahnya akan mensejahterakan petani di Sulawesi Utara khususnya di Bolaang Mongondow Raya,” pungkas Suhada.

Dari data yang diperoleh, ada empat komoditi andalan Sulut yang selama ini jadi incaran eksportir. Seperti kelapa dengan luas perkebunan 275.596 hektare (ha). Kelapa terbesar dengan produksi 302.329 ton.

Kemudian ada cengkih dengan luas hampran 77.428 ha dengan produksi 3.819 ton yang kini terbanyak di wilayah Bolmong Raya. Disusul pala 24.537 ha dengan produksi 11.257 ton. Pala banyak dibudidayan di Talaud dan Sangihe. Sementera kakao 16.863 ha dengan produksi 11.591 ton. (red/*)

 

Sebarkan:
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terpopuler

To Top