Derbi Dimenangi, Optimisme Menguat, tetapi Ujian Konsistensi Arsenal Baru Dimulai

FOOTBALL,SULAWESION.COM-Kemenangan 4-1 atas Tottenham Hotspur dalam Derbi London Utara menghadirkan kembali euforia di Emirates Stadium. Di saat bersamaan, kabar kontrak anyar Bukayo Saka dan posisi Arsenal di puncak klasemen Premier League semakin menguatkan kesan bahwa aroma kejayaan kembali berembus di London Utara.

Arsenal juga masih belum terkalahkan di Liga Champions musim ini, melaju ke putaran kelima Piala FA, dan dijadwalkan tampil di final Carabao Cup bulan depan. Di atas kertas, musim 2025/2026 tampak menjanjikan bagi skuad racikan Mikel Arteta.

Namun, di balik optimisme tersebut, terselip keresahan yang belum sepenuhnya sirna.

Kemenangan atas Spurs menjadi pengecualian manis di tengah laju yang sempat tersendat. Sebelum laga derbi, The Gunners hanya memenangi dua dari tujuh pertandingan terakhir di Premier League. Empat kali mereka bermain imbang, dan satu kali menelan kekalahan. Pola kehilangan keunggulan kembali muncul—kalah 2-3 dari Manchester United, serta ditahan Brentford (1-1) dan Wolves (2-2) setelah sempat unggul.

Bayang-bayang Manchester City yang terus mengintai di papan atas seakan menghidupkan trauma musim-musim sebelumnya. Jika musim ini kembali berakhir tanpa trofi liga, dalih klasik seperti “skuad muda” atau “krisis cedera” mungkin tak lagi mudah diterima.

Sebab, untuk pertama kalinya dalam empat musim terakhir, Arteta memiliki kedalaman skuad hasil belanja besar-besaran.

Musim ini memang diawali dengan ujian berat. Martin Odegaard dan Saka mengalami cedera saat jeda internasional. Ben White menjalani operasi lutut. Saka bahkan mengalami robek hamstring Grade 3 pada Desember yang memaksanya menepi hingga April. Kai Havertz, Gabriel Martinelli, hingga Gabriel Magalhaes juga sempat masuk ruang perawatan.

Situasi darurat itu membuat manajemen bergerak cepat. Direktur olahraga anyar, Andrea Berta, mendapat lampu hijau untuk memperkuat tim.

Cristhian Mosquera dan Piero Hincapie didatangkan untuk menambah kedalaman lini belakang. Martin Zubimendi direkrut sebagai jangkar utama di lini tengah, dengan Christian Norgaard sebagai pelapis berpengalaman. Di sektor serang, Arsenal menghadirkan Noni Madueke, Viktor Gyokeres, dan Eberechi Eze untuk meningkatkan produktivitas gol.

Di atas kertas, skuad Arsenal kini bukan hanya dalam, tetapi juga sarat kualitas. Beban Saka seharusnya bisa terdistribusi. Para pemain inti memiliki opsi rotasi yang kompetitif.

Akan tetapi, realitas di lapangan tidak selalu seideal rencana.

Salah satu sorotan tertuju pada minimnya rotasi. Zubimendi tak pernah absen di liga sepanjang musim debutnya dan mulai menunjukkan tanda-tanda kelelahan. Sementara itu, Norgaard—yang tampil impresif sebagai bek tengah darurat di ajang piala dan menjadi bintang saat Arsenal menghancurkan Wigan Athletic 4-0 di Piala FA—hanya bermain 34 menit di Premier League dengan empat kali penampilan sebagai pemain pengganti.

Dua produk akademi, Myles Lewis-Skelly dan Ethan Nwaneri, juga jarang mendapat kesempatan. Nwaneri, yang disebut-sebut memiliki naluri menyerang lebih tajam daripada Odegaard dan mampu menjadi pelapis Saka, justru kesulitan menembus tim utama dan akhirnya dipinjamkan ke Marseille.

Di lini belakang, Hincapie dan Mosquera memang menjadi tambahan penting. Namun, keduanya kerap dimainkan setelah bek utama seperti Gabriel, William Saliba, atau Riccardo Calafiori mengalami cedera. Calafiori sendiri dikenal rentan secara fisik, meski duetnya dengan Leandro Trossard di sisi kiri menjadi salah satu kombinasi paling efektif musim ini.

Kritik pun mengarah pada Arteta. Ia dinilai belum sepenuhnya memaksimalkan seluruh sumber daya yang tersedia.

Arsenal dikenal sebagai tim dengan fondasi solid. Identitas itu membuat mereka jarang kalah beruntun. Namun, dalam persaingan modern Premier League, “jarang kalah” belum tentu cukup tanpa konsistensi kemenangan. Empat hasil imbang dalam tujuh laga terakhir menjadi bukti bahwa stabilitas saja tak menjamin supremasi.

Ketergantungan pada situasi bola mati untuk memecah kebuntuan juga menjadi catatan. Saat menghadapi pertahanan rapat, Arsenal kerap kehilangan kreativitas dan keberanian mengambil risiko.

Meski demikian, kemenangan atas Tottenham menghadirkan secercah jawaban. Arteta melakukan beberapa penyesuaian berani, termasuk memberikan peran lebih luas kepada Eze, yang sebelumnya jarang dipercaya sebagai sayap kiri sepanjang 2026. Kepercayaan itu terbayar dengan performa meyakinkan.

Derbi London Utara menunjukkan satu hal: ketika rotasi dilakukan dengan tepat dan pemain diberikan kepercayaan, Arsenal memiliki kualitas untuk menghancurkan lawan.

Kini, pekerjaan rumah Arteta adalah menjaga agar kemenangan besar atas Spurs bukan sekadar letupan sesaat. Dengan kedalaman skuad yang dimiliki, alasan absennya satu atau dua pemain kunci tak lagi cukup untuk menjelaskan inkonsistensi.

Arsenal berada di puncak klasemen. Namun, untuk benar-benar mengangkat trofi, mereka membutuhkan lebih dari sekadar momentum—mereka memerlukan keberanian, manajemen skuad yang lebih adaptif, dan konsistensi yang tak lagi terputus di tengah jalan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan