BOLMUT,SULAWESION.COM– Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) menjadi salah satu daerah di Sulawesi Utara (Sulut) yang masuk dalam Instruksi Presiden (Inpres) tentang Irigasi.
Hal ini diungkapkan oleh Kepala SNVT pelaksana jaringan sumber air BWS Sulawesi 1 Alvianus Palisungan menurutnya Bolmut masuk Inpres tentang irigasi. Karena salah satu jantung lumbung pangan di Sulut.
Kehadiran Inpres tersebut bagian dari memperkuat ketahanan pangan. Hal ini diungkapkan Palisungan saat diwawancarai pada Kamis 15 Januari 2026 dilokasi Pantai Batu Pinagut.
Sebelumnya dilansir dari Antara Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sulawesi I, Sugeng Harianto mengatakan berdasarkan visi pemerintah saat ini, telah terbit Inpres Nomor 2 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembangunan, Peningkatan, Rehabilitasi dan Pemeliharaan Jaringan Irigasi.
“Terbitnya Inpres ini maka semua batas-batas kewenangan dihapus.Pemerintah daerah mempunyai keterbatasan anggaran atau mungkin prioritas pembangunannya bukan di irigasi,”ujarnya.
Karena APBD terbatas maka pekerjaan irigasi dilimpahkan atau dinaikkan ke APBN melalui Inpres Nomor 2 Tahun 2025.
Menurutnya, arah pekerjaan saat ini adalah lebih kepada bagaimana upaya BWS Sulawesi I memenuhi ketersediaan air irigasi.
“Pemenuhan air irigasi agar dapat tercukupi sehingga layanan untuk sawah di semua tingkatan dapat terpenuhi,”ungkapnya.

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Kementerian Pertanian, Hermanto menyampaikan sepanjang tahun 2025 pemerintah terus melakukan pembangunan.
“Peningkatan, rehabilitasi, serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi pertanian secara masif dan terintegrasi,”ujarnya dilansir dari laman Kementrian pertanian.
Hal ini dilakukan mengacu pada Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2025 tentang percepatan pembangunan, peningkatan, rehabilitasi.
Serta operasi dan pemeliharaan jaringan irigasi untuk mendukung swasembada pangan nasional yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto pada 30 Januari 2025.
Dengan adanya Inpres Nomor 2 Tahun 2025, pemerintah mempercepat perbaikan dan rehabilitasi infrastruktur irigasi pada daerah irigasi yang sekitar 60 persen kondisinya kurang optimal dalam menyediakan air bagi persawahan.
Dirinya merinci dari target Inpres tahap pertama seluas 280.880 hektare, pemerintah merealisasikan sebesar 99,93 persen.
Untuk tahap kedua ditargetkan sebesar 225.775 hektare dengan capaian meliputi 83,46 persen pada jaringan irigasi utama; 98,66 persen pada jaringan irigasi tersier; dan 92,25 persen pada pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi air tanah (JIAT).

Sedangkan untuk Inpres pada kegiatan tahap ketiga, dari target luasan 146.503 hektare terealisasi pelaksanaan jaringan irigasi utama sebesar 67,67 persen; realisasi pelaksanaan jaringan irigasi tersier mencapai 87,57 persen; dan untuk pembangunan dan rehab JIAT mencapai 93,91 persen.
Sementara itu berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sulawesi Utara (Sulut) Kabupaten Bolmut merupakan tiga daerah di Sulut dengan produksi padi (Gabah Kering Giling) tertinggi pada tahun 2024 bersama Bolaang Mongondow dan Minahasa.
Pada tahun 2024 produksi padi (GKG) di Bolmut mencapai 23.311 ton. Naik dibandingkan pada tahun 2023 19.191 ton.
Bolmut juga berdasarkan data BPS pada Sobround Januari-April 2025. Adanya potensi kenaikan produksi padi yang cukup besar.
Laporan BPS menyampaikan produksi beras di Bolmut naik pada tahun 2024 mencapai 13.099 ton dibandingkan tahun 2023 diangka 10.784 ton.
Produksi beras Januari-April 2024 mencapai 6.810 ton sementara pada tahun 2025 periode Januari-April produksi beras 8.560 ton (data BPS angka sementara).
Walau demikian luas panen padi di Kabupaten Bolmut mengalami penurunan pada tahun 2024 yaitu 5.545 Hektar (Ha) dibandingkan tahun 2023 diangka 5.546 Ha.
Sementara itu, produksi padi di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut) pada tahun 2025 mencapai 43.899 ton berdasarkan data dinas pertanian Kabupaten Bolmut.
Dengan produksi terbanyak di Kecamatan Bintauna yang mencapai 11.137 ton dengan luas lahan 2.123 Hektar (Ha).
Produksi panen kedua terbanyak berada di Kecamatan Bolangitang Barat yaitu mencapai 8.271 ton dengan luas lahan 848 Hektar (Ha).
Diurutan ketiga ada Kecamatan Sangkub dengan produksi mencapai 7.725 ton dengan luas lahan 913 Ha.
Sementara itu di Kecamatan Kaidipang produksi mencapai 7.321 ton dengan luas lahan 799 Ha. Pinogaluman produksinya mencapai 5.729 ton dengan luas lahan 1.011 ton. Bolangitang Timur produksinya mencapai 3.716 ton dengan luas lahan 307 Ha.
Disisi lain dalam rapat kerja di Kecamatan Sangkub persoalan irigasi persawahan menjadi keluhan dan bahan diskusi bersama Bupati Bolmut Sirajudin Lasena.
Sebelumnya Kepala Bidang Prasarana, Sarana dan Penyuluh Dinas Pertanian Bolmut Syarifuddin beragam masalah yang dihadapi oleh petani adalah soal produksi hasil pertanian.
“Salah satunya adalah soal pengairan (irigasi) yang tentu menjadi tantangan,”katanya.
Soal pengairan, berdasarkan data dalam roadmap percepatan pembangunan pertanian Kabupaten Bolmut tahun 2025-2045 yang disusun oleh pemkab Bolmut kerjasama dengan Institut Pertanian Bogor (IPB).
Penggunaan lahan sawah di Bolmut sampai dengan Tahun 2023 terhitung seluas 4.394,09 ha yang terdiri dari lahan sawah irigasi, lahan sawah tadah hujan dan lahan sawah rawa pasang surut.
Selanjutnya sawah irigasi dengan presentase 74 persen atau sekitar kurang lebih seluas 3.343,34 ha dengan luasan sawah irigrasi terluas di Kecamatan Sangkub, yaitu 982,31 ha.

Sedangkan luas sawah tadah hujan kurang lebih 20 persen atau sekitar sebesar 920 ha yang tersebar merata di enam kecamatan, dengan luas sawah tadah hujan terluas di Kecamatan Sangkub.
Sehingga berdasarkan data diatas maka untuk dapat meningkat produksi pertanian khususnya tanaman pangan adalah dengan meningkatkan pengelolaan pengairan, terutama pada lahan yang masih tergantung pada pengairan hujan.
Luas lahan sawah yang mempunyai irigrasi teknis di Kabupaten Bolaang Mongondow Utara seluas 2.498,96 ha, sedangkan luas lahan sawah yang mempunyai irigrasi non teknis seluas 995,85 ha dan ada kurang lebih 980.38 ha sawah tidak mempunyai irigrasi.
Dari 2.498,96 ha luas sawah yang mempunyai irigrasi teknis kurang lebih 372,21 ha mempunyai kualitas buruk sedangkan sisahnya atau 2.216,75 ha dengan kondisi irigrasi baik.
Sedangkan dari 995,85 ha sawah dengan irigrasi non teknis, terdapat 296,83 ha yang mempunyai kualitas irigrasi non teknis buruk dan 699.02 ha mempunyai kualitas baik.







