Pendidikan

Menyusuri Jejak Sang Guru di Pulau Terpencil

Inggrid Anastasya Betah S.Pd

Laporan: Victor ‘Tato’  Layuk dari kawasan perbatasan.

Fajar baru saja mengintip di ufuk timur dan kupacu kuda besiku melewati perbukitan  menuju sebuah dusun kecil di ujung pulau, tuk menemui sosok seorang guru yang sudah tiga tahun  mengabdi di pulau itu.

Inggrid Anastasya  Betah SPd gr, biasa disapa Enci Inggrid.  Iapun  menuturkan suka dukanya saat ditempatkan di pulau itu.

Pertama kali datang ke tempat ini, ia sempat tersesat sangking jauhnya. Ia sendiri bingung  kalau Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 3 Satap Tabukan Selatan Tengah, Kabupaten Kepulauan Sangihe itu berada  di pulau.  ia sempat tanya dan  banyak yang bilang itu di daratan karena Beeng darat. berdasarkan  info untuk ke pulau ia harus ada di pelabuhan  jam 4 subuh.

Enci Inggrid Menyusurui pantai menuju sekolah

“Saat naik mobil aku nyasar naik mobil ke Lapango, untung saja ada teman yang sama penempatan di sini dan kebetulan  tinggal di Lapango, jadi bisa ikut dia,”ujarnya.  Pertama kali menginjakkan kaki di pulau itu  enci Inggrid diminta bertemu dengan Kepala Sekolah,  sekaligus survei lokasi untuk mencari tempat tinggal. Setibanya ia di kampung Salurang  enci inggrid  berpikir itu sekolahnya,  ternyata ia harus naik perahu  bersama orang kampung  yang hendak pulang dari pasar.

Naik bukit menuju sekolah

“Perkampungan biasanya ada di dekat sekolah  tapi ternyata salah, gedung SMP terletak di atas bukit dekat tebing , saya akhirnya tinggal di Soa,  di sini belum ada listrik dan air PAM, air yang digunakan adalah mata air,” ujarnya.

“Enam bulan pertama, dengan kehidupan yang serba terbatas saya menjalannya dengan suka  Meski hanya menggunakan lampu botol, dinding yang penuh debu karena tidak diplester, air yang tiap saat harus diambil menggunakan ember atau galon ke bak dan tidur tanpa kasur hanya di atas papan beralaskan karpet. Namun saya bahagia, Awalnya memang  berat menjalani kehidupan termasuk beradaptasi  dengan  lingkungan baru budaya dan bahasa, ” ucapnya.

Menurutnya, kehidupan sebelumnya yang 180 derajat berbeda membuat dirinya hampir putus asa namun tetap ia jalani  dan itu   hampir 3 tahun,  ennci Inggrid mengaku banyak perkembangan yang terjadi baik jaringan telepon . Jaringan internet. Air dan rumah yg sudah layak huni.

“Selama proses mengajar disini pertama saya agak kesulitan bahasa karena untuk keseharian menggunakan bahasa campuran alias setengah bahasa Manado dan Setengah bahasa ibu. Walau dalam pembelajaran menggunakan bahasa Indonesia baku  itulah kendala terbesar karena saya harus mempelajari banyak hal dalam bahasa daerah Sangihe. ” cetusnya.

Ia akhirnya  menggunakan metode pembelajaran contextual teaching learning yakni dengan konsep pembelajaran menggunakan apa yang ada di daerah sini untuk kosakata agar tidak terjadi misunderstanding atau  salah paham diantara guru dan siswa .  walau  siswa jumlahnya sedikit ia bersyukur jadi motivasi untuknya untuk  lebih semangat mengajar.

Enci Inggrid menambahkan dirinya tiap hari sangat lelah karena harus bolak balik  jalan kaki dari rumah menuju sekolah yang jalannya mendaki.

“Keadaan ini tak membuat saya menyerah,  semua harus  dijalani dgn tulus pasti tak terlalu berat,  hanya saja sedih karena  terpisah dari keluarga,  terkadang  ketika ombak badai datang  bahan makanan sulit didapat karena semua harus dibeli di seberang pulau, dan saya  hanya mohon semoga Tuhan melindungi saya dalam tugas ini. “tandasnya,  sembari menghapus butiran air yang menggenangi matanya. (*)

Sebarkan:
1 Comment

1 Comment

  1. Jheyadytia

    18 Mei 2020 at 13:04

    Smangat encii

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Terpopuler Minggu Ini

To Top