Perusahaan Jagung dan Pabrik Tepung Tapioka Hadir di Mubar, Dinilai Bisa Meningkatkan Pendapatan Ekonomi Keluarga

 

MUBAR-SULAWESION.COM, PJ. Bupati Muna Barat, Dr. Bahri mengatakan sesuai arahan Presiden dan Mendagri serta Gubernur Sultra agar dalam konteks mengatasi krisis pangan dunia sebagai akibat dari perang Rusia- Ukraina dituntut harus bertindak lokal berpikir global.

Bacaan Lainnya

Maka dalam rangka mengatasi itu, Bahri akan memanfaatkan lahan-lahan pertanian yang berpotensi untuk menghasilkan produk pertanian ataupun dalam konteks ketahanan pangan.

Selain potensi sawah, Mubar juga memiliki banyak lahan kering yang bisa dimanfaatkan untuk kemandirian pangan. Ini sesuai tujuan PJ. Bahri dalam ketahanan pangan dibidang Pertanian yang melihat peluang itu, dan itu harus dipacu.

Kadis Pertanian Mubar, Nestor Jono mengatakan untuk mendukung kemandirian pangan, di Muna Barat telah hadir investor yang akan berinvestasi untuk pengolahan tepung dan juga jagung.

“Kehadiran pabrik jagung dan tapioka menurut Pj. Bahri adalah disamping dapat meningkatkan pendapatan petani dan penyerapan tenaga kerja juga bisa memanfaatkan lahan-lahan tidur,” kata Nestor, Sabtu malam, (23/07/2022).

Beberapa waktu lalu, pihak investor datang di Muna Barat dan telah melihat potensi komoditi produksi ubi kayu.

Bisa dibayangkan dengan kehadiran perusahaan Tapioka bisa menyerap tenaga kerja lokal begitu besar, karena Bupati menekankan bahwa tenaga kerja harus anak daerah.

“Saat ini pabrik tepung tapioka sudah sepakat untuk MoU dengan Pemda. Dalam hal penandatanganan MoU bisa dilakukan apabila pihak perusahan lebih awal membangun pabrik sebagai bukti keseriusan pihak perusahan. Itu penegasan Bupati,” ungkapnya.

Selanjutnya kata Nestor, sebagai langka awal dalam pembukaan lahan, mulai dari pembersihan, pengolahan tanah, penyediaan bibit, pupuk dan pemeliharaan, estimasi dana per hektarnya membutuhkan dana awal Rp.8 juta, hal itu pemerintah daerah melalui Perusahan Daerah (Perusda) akan memberikan pembiayaan kepada petani.

“Karena proses MoU akan dilakukan antara pihak Perusda dengan pihak perusahan. Petani akan diberi kemudahan. Jadi Pemda melalui Perusda akan membeli dari petani. Itu sebagai bentuk perlindungan petani kita,” jelasnya.

Nestor menganalisa penghasilan petani yang menanam ubi kayu. Satu hektare bisa menghasilkan kurang lebih 45- 50 ton, kurun waktu 6-7 bulan masa panen dengan harga jual minimal seribu rupiah per kilo.

“Artinya dalm 1 hektare pendapatan kotor petani Rp. 45 jt-50 jt,” ujar Kadis.

Kemudian investor jagung kuning saat ini sudah masuk.

“Perusahaan ini melalui koperasi akan memberikan kebutuhan seperti bibit jagung, obat, dan lainnya. Nanti akan dipotong pada saat produksi. Saat ini sudah jalan. Yang masuk dalam koperasi ini adalah petani yang ada di Muna Barat,” ujarnya.

Nestor berharap dirinya petani tidak hanya sebagai pekerja tetapi bisa sebagai manajer. Ada maindset berpikir bisa merencanakan sampai pada out put sehingga bermuara pada kesejahteraan keluarga.

“Berbicara ketahanan pangan berarti berbicara petani. Petani bisa dikatakan mendorong ekonomi keluarga yang bisa memacu kemajuan daerah,” cetusnya.

Zul Awal I Pardi

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *